Tunjungtirto,- (Rabu, 5 Agustus) Pendidikan seorang anak bukanlah proses satu arah yang hanya terjadi di dalam ruang kelas. Sekolah memang menjadi tempat anak-anak menimba ilmu dan mengasah keterampilan, namun rumah dan keluarga tetaplah fondasi utama pembentukan karakter mereka. Ketika dua dunia ini—sekolah dan rumah—berjalan sendiri-sendiri tanpa komunikasi yang terjalin erat, proses tumbuh kembang anak tidak akan mencapai potensi maksimalnya. Di sinilah peran aktif orang tua menjadi sangat krusial. Kehadiran orang tua dalam ekosistem sekolah tidak boleh sebatas kegiatan antar-jemput atau sekadar menerima laporan hasil belajar di akhir semester. Anak-anak membutuhkan kolaborasi nyata antara guru yang mengajar dan orang tua yang mendampingi. Ketika anak melihat adanya hubungan yang harmonis dan saling mendukung antara orang tua dan sekolah, mereka merasa aman, dihargai, dan termotivasi untuk berkembang.
Namun, upaya mendampingi pendidikan anak akan jauh lebih berdampak jika dilakukan secara terorganisir dan kolaboratif. Perhatian dari satu orang tua tentu berharga, tetapi ketika disatukan dalam sebuah wadah resmi—seperti Paguyuban Orang Tua Siswa—kekuatan tersebut menjadi berlipat ganda. Paguyuban bukan sekadar tempat berkumpul atau berbagi informasi harian, melainkan jembatan komunikasi dan mitra strategis sekolah. Melalui wadah ini, orang tua dapat: Menyelaraskan Visi Pendidikan: Memastikan nilai-nilai dan karakter yang ditanamkan di sekolah mendapat penguatan yang sejalan saat anak berada di rumah, Menyampaikan Aspirasi secara Konstruktif: Menjadi saluran komunikasi dua arah yang sehat untuk memberikan saran, masukan, dan solusi demi kemajuan fasilitas serta metode pembelajaran di sekolah, Mendukung Program Sekolah: Menjadi mitra aktif dalam menyukseskan kegiatan akademik maupun ekstrakurikuler melalui dukungan ide, tenaga, maupun sumber daya. Membangun Support System Antar-Orang Tua:Saling berbagi pengalaman, wawasan, dan tantangan dalam mengasuh anak di era modern, sehingga tidak ada orang tua yang merasa berjuang sendirian.
Pendidikan yang berhasil selalu lahir dari kemitraan yang kuat. Membentuk Paguyuban Orang Tua Siswa adalah investasi sosial dan emosional yang berharga. Ketika sekolah dan orang tua melangkah bersama dengan tujuan yang sama, lingkungan belajar yang ideal bagi masa depan anak-anak akan tercipta secara nyata. Puji syukur alhamdulillah hari ini terbentuk sudah Paguyuban Orang Tua Siswa Kelas Tujuh, mulai kelas 7A hingga 7 G.

Pada hari ini pula Bapak Ruhdi, S.Pd, M.Pd memfloorkan sosialisasi program sekolah. Mengapa kegiatan ini diupayakan dan menjadi agenda yang penting? Sebagus apapun sebuah rancangan kurikulum, program pembiasaan karakter, maupun kegiatan ekstrakurikuler yang disusun oleh sekolah, keberhasilannya sangat bergantung pada satu hal: kesepahaman dengan orang tua. Program sekolah tidak akan berjalan optimal jika hanya berhenti di dalam lingkungan kampusnya. Oleh karena itu, sosialisasi program sekolah kepada orang tua murid bukan sekadar agenda formalitas tahunan, melainkan pondasi utama dari kemitraan pendidikan. Proses belajar anak bersifat berkelanjutan antara sekolah dan rumah. Ketika sekolah meluncurkan suatu program—baik di bidang akademik, pengembangan karakter, maupun kegiatan pendukung seperti gerakan ramah lingkungan dan literasi—orang tua perlu memahami tujuan, proses, serta dampak yang diharapkan dari program tersebut. Tanpa sosialisasi yang jelas, risikonya adalah munculnya salah paham, ketidakpedulian, atau bahkan hambatan dalam penerapan pembiasaan anak di rumah.